SKENARIO 1

Duniaku, Duniamu

DESKRIPSI

Jenis drama            : drama komedi situasi

Durasi                    : ± 45 menit

Jumlah pemain       : 18 orang

–         8 laki-laki

–         10 perempuan

SINOPSIS

Sentot adalah seorang pemuda berusia 21 tahun asal Tegal yang bercita-cita sebagai artis terkenal. Ia sangat menyukai tokoh idolanya, yaitu Bang Haji alias Rhoma Irama. Saking ingin ngetopnya, ratusan casting ia jalani. Mulai dari casting iklan sabun colek, casting krim kecantikan, casting susu bayi, sampai casting layar lebar pun ia jalani. Namun, semua castingcasting di atas tidak semudah dan semenyenangkan yang ia pikirkan.

Bosan menjadi artis, ia mencoba melangkahkan kaki ke dunia tarik suara. Keinginannya menjadi seperti Bang Haji membuat ia harus menjual kambing kesayangannya, bernama Panjol, untuk menambah uang tabungannya. Uang tabungan dan hasil penjualan ia serahkan kepada agen pencari bakat. Namun, sayang. Boro-boro jadi artis terkenal, ia malah ditipu oleh orang yang mengaku agen pencari bakat tersebut. Akhirnya ia menjadi stres akut alias gila dan harus dilarikan ke RSG. Namun, di sanalah cita-citanya menjadi seperti Bang Haji terkabul. Di dunianya yang baru ia memunyai banyak teman seprofesi dengannya, walau hanya dalam khayalan.

PEMAIN

Tokoh Utama:

Sentot Sakti Mandraguna (Sentot).

  1. Polos dan lugu.
  2. Berlogat Tegal.
  3. Badan jangkung kurus dan suka sekali berpenampilan seperti Rhoma Irama.

Tokoh Sampingan:

  1. Biyung (ibu).
  2. Winuk (teman semasa kecil).
  3. Prapti (teman semasa kecil).
  4. Tono (teman semasa kecil).
  5. Jack alias Jaka (teman seperantauan).
  6. Mas Dedi (sutradara iklan sabun colek).
  7. Pak Roy (sutradara iklan krim kecantikan).
  8. Bunda Neno (sutradara iklan bubur bayi).
  9. Mas Hanung (sutradara layar lebar).

10. Astuti yang berperan dalam film Anak-Anak Cebol.

11. Selly (agen pencari bakat gadungan).

12. Sarah (asisten Sarah).

13. Dokter RSG.

14. Suster RSG.

15. Pasha Ungu (orang gila).

16. Siti Nur Haliza (orang gila).

17. Gitta Gutawa (orang gila).

SCENE 1 (halaman rumah Sentot, Tegal)

Pagi yang cerah. Sentot sedang asyik memandikan kambing kesayangannya. Lagu Campur Sari pun terdengar dari dalam rumahnya.

Sentot    : (sambil bersiul-siul memandikan kambing)

Oalah dhus…wedhus! Kowe iki setiap hari tak mandiin.

Tapi kok yo tetep mambu tho?

(mbek…., bunyi kambig mengembek)

Wis, tapi ora opo-opo.

Lha wong kalau nggak ada kamu enyong yo merana kok…

Tapi eling! Eling! Bentar lagi enyong kan mau berangkat ke Jakarta, kalian jangan pernah ngelupain jasa juraganmu yang setia mandiin, makani, dan ngerawat kamu yo…

Panjol, inget lho….

Awas, kalau sampek kamu ngelupain enyong!

Langsung tak jual, biar dijadiin sate sama wong Jakarta.

Wis yo, enyong mandi dulu….

Sampai Jakarta bisa kesiangan nanti kalau nggak cepat-cepat mandi!

Dengan pakaian rapi, gaya necis bak Bang Haji, Sentot keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk berpamitan ke Jakarta. Di sana ada biyungnya yang sedang menginang.

Sentot    : Ah, emang Biyung kiye senengene nyetel campur sari….aja!

Huh, nggak gaul! Nggak gaul! Ha, mending ini….

(memutar radio dan mengganti campur sari dengan lagu Rhoma Irama)

Lha, enak tho?

Biyung   : Eh, eh, eh…. Lagu enak-enak kok malah diganti!

Lagu apa kiye! Oh, dasar bocah semprul!

Sentot    : Yung, lagune Biyung itu sudah kadaluarsa Yung…

Sama kayak orangnya. (suara pelan)

Biyung   : Apa kowe ngomong? Tau nggak! Biyung dulu waktu muda suarane yo kinyis-kinyis kayak kuwi. (sambil bergaya, menyombongkan diri)

Sentot    : Gubrak! (tiba-tiba jatuh)

(sambil menenteng tas buluk miliknya, berkacamata hitam, Sentot berpamitan)

Yung, enyong tak pamit dulu merantau ke Jakarta yo Yung…

Doaian aja di sana enyong bisa jadi kayak Bang Rhoma Irama.

Biyung   : Lho, kowe jadi pergi sekarang tho? Yo, Le. Tak doain kowe jadi artis terkenal. siapa tau Biyung juga bisa ikutan ngetop! He…

(sambil menunjukkan giginya yang merah karena kinang)

Sesampainya di depan teras, tiba-tiba ada teman-teman Sentot yang menangis bercucuran air mata karena sedih ditinggal Sentot merantau.

Prapti    : Tot…Sentot, kowe jadi pergi?

Tono     : Kalau kowe sudah jadi kayak Bang Haji, enyong dikenalkan sama Mbak Angel Lelga yo Tot….

Prapti    : Hus, mbok yo liat dulu wajahmu tu kayak apa!

Sentot    : Iyo, iyo, enyong nggak bakalan lupa sama kalian.

Nanti kalau enyong sudah terkenal Biyung dan kalian enyong ajak ke Palestin!

Biyung   :  Lha, ngapain ke Palestin? Di sana kan tempatnya perang!

Emangnya kowe pikir Biyungmu ini bom molotov apa?

(sambil memukul Sentot dengan tongkat)

Winuk   : Sentot… hiks…. (menangis)

Sentot    : Oh iya. Nuk, nanti kalau enyong sudah jadi terkenal, tenang!

Kowe pasti tak lamar.

Winuk   : Bener yo Kang….

Sentot    : He eh…

(sambil mengenakan kacamatanya dan berangkatlah ia ke Jakarta dengan membawa barang-barang kunonya)

SCENE 2 (kos-kosan, Jakarta)

Sesampai di Jakarta ia bertemu dengan Jack alias Jaka yang berasal dari Madura. Mereka sama-sama mengadu nasib di Ibu Kota.

Sentot    : (turun dari mikrolet sambil memegang kertas alamat)

Lha, bener nggak ya enyong ini? Tapi kayaknya alamatnya sama.

Ah, mending enyong tanya bae lah!

(mendekati Jack yang sedang berjualan sate)

Sentot    : Kang, Kang, apa bener ini Jalan Musyawarah no.20?

Jack       : E, e, e, bener ta’iye! Sampean siapa? (dengan logat Maduranya yang khas)

Sentot    : Saya Sentot, Kang. Sentot Sakti Mandraguna.

Jack       : Oh, Mas Sentot ya? Saya Jack alias Jaka.

Sentot    :  Oalah, Mas Jack tho? Yang di pezbuk kae?

Jack       : Iya, bener ta’iye. Kita kan sering ngobrol di facebook!

Untung sampeyan nggak nyasar.

Ayo, tak tunjukin apartemennya.

(menuju kos-kosan)

Lha, ini apartemennya. Mewah sekali ta’iye!

Sentot    : Lho, kok malah gubuk?

Kata sampeyan apartemen? Wah, sampean mbo’ongin enyong ya?

Di pezbuk bilangnya sampeyan seorang pengusaha, tinggalnya di apartemen!

Jack       : Bo, abo! Ini juga saya sedang usaha ta’iye.

Sudah, sampeyan istirahat aja.

Saya mau keliling dulu njualin dagangan saya.

Akhirnya Jack berkeliling jualan sate dengan logat “te-sate”. Dan Sentot pun

berbaring di kamar yang sempit.

SCENE 3 (tempat syuting iklan sabun colek)

Sentot dan Jack menuju tempat syuting. Di sana ada beberapa orang yang juga mau ikut casting.

Sentot      : Apa bener ya ini tempatnya?

Jack         : Abo, mana saya tau! Tanya saja ke orang yang ada di sana.

(menuju ke arah sutradara)

Sentot      : Mas, mas, apa bener ini tempat syuting Mbok Cream,

iklan sabun colek itu?

Mas Dedi: Iya, benar. Gue sutradaranya.

Sentot      :  Nganu, enyong Sentot. Mau ikutan casing.

Jack         : Huz, sampeyan ini, casing, casing! Casting!

Mas Dedi : Oh, mau ikut casting?

Tapi di sini cuma kurang pemain yang jadi suami aja.

Sentot      : Hah, jadi suami Mas? Wah, kalau itu cocok sama enyong.

Lah wong enyong ini calon suami yang baik, kok.

Mas Dedi : Kalau gitu, ayo! Langsung take one aja.

Dengan semangatnya, Sentot langsung ganti kostum menjadi suami yang teraniaya dengan kaos oblong dan celana pendek. Dalam adegannya, ia dianiaya sang istri karena menyuci pakaian tidak bersih. Sedangkan sang istri hanya duduk-duduk sambil memegang uang arisan.

***Dalam bagian ini, tayangan iklan hanya dimainkan secara

lipsing (tanpa suara), karena hanya menggambarkan akting Sentot saat

menjadi suami yang teraniaya. Bagian ini membutuhkan figuran

yang berperan menjadi istri dan music yang mendukung cerita.

SCENE 4 (tempat syuting iklan krim kecantikan)

Beberapa hari kemudian Sentot mendapat tawaran syuting iklan krim kecantikan. Dengan harapan tidak mendapat peran sial lagi, ia pun melangkah ke tempat syuting.

Sentot       :  Ya Allah, mudah-mudahan peran enyong sekarang lebih baik, lebih ada taste-nya gitu! Nggak kayak kemarin. Masa’ enyong dijadikan suami yang disiksa istri! Mana istrinya mukulnya beneran lagi!

Pak Roy    :  Eh, Mas sentot ya? Sudah datang rupanya. Saya Roy.

Ayo, pemain lainnya sudah menunggu.

Gini Mas, ada dua krim kecantikan.

Yang pertama merk tidak terkenal dan tidak berkualitas, dan yang kedua produk kita ini Mas, yang berkualitas.

(sambil menunjukkan krim)

Sentot       :  Terus, enyong jadi apa, Pak?

Pak Roy    : Anda jadi korban krim yang pertama.

Nanti Anda akting gatal-gatal ya kulitnya, gara-gara memakai krim yang tidak berkualiatas. Nanti wajah Anda dikasih make up hitam, biar kelihatan gosong!

Sentot       : Apa???

***Sama seperti iklan pertama, pengambilan gambara dalam adegan ini

hanya dilakukan secara lipsing. Dalam aktingnya, Sentot

dibandingkan dengan aktor yang putih bersih kulitnya karena

memakai krim kecantikan yang berkualitas.

SCENE 5 (tempat syuting iklan susu bayi)

Suatu saat, Sentot mendapatkan tawaran iklan lagi. Kali ini ia mendapat tawaran menjadi bayi bergizi buruk Karena tidak pernah diberi susu berkualitas.

Bunda Neno  : Saya Neno. Panggil aja Bunda Neno, biar ngetop kayak

Neno Warisman. Nah, Mas Sentot, ini produk andalan kita.

Susu SGM, kepanjangan dari Sinting, Gila, Miring…. Ye…

(sambil menyengir dan menujukkan susu merk SGM)

Sentot           :  Hah? (terbengong)

Bunda Neno  :  Maksudnya, jika ada bayi yang meminum susu ini, maka ia akan

jenius seperti Albert Einstein yang selalu dianggap sinting, gila, dan miring…. Begitchuu….

Sentot            : Lalu, enyong berperan jadi Einstein ya Bunda?

Bunda Neno   : Ah, Anda itu ngacho!

Lihat wajah Anda yang abstrak dan unik ini, ya pantasnya Anda

itu jadi bayi yang kurang gizi, sehingga badan doang yang gedhe,

tapi IQ-nya jongkok.

Sentot            : Lagi??? Tega bener dah ibunya sama enyong. Huhu…

(menangis sesenggukan)

Syuting pun dimulai. Sentot dipaksa mengenakan baju bayi lengkap dengan aksesorisnya. Ia berperan menjadi bayi berbadan besar namun tolol.

***Bagian ini juga dilakukan dengan lipsing.

SCENE 6 (tempat syuting film Anak-anak Cebol)

Kali ini Sentot girang bukan main, karena dia baru saja mendapatkan tawaran main di layar lebar. Tidak tanggung-tanggung, seorang sutradara terkenal yang meneleponnya sendiri.

Sentot            : Hallo, Mas Hanung. Enyong sudah di lokasi syuting ini.

Mas Hanung di mana tho? Kok enyong nggak ngeliat?

Hanung          : Saya di depan Anda.

Sentot            : Mana? Oh, itu.

Sentot pun menghampiri sutradara itu dengan gembira.

Hanung          : Mas Sentot?

Sentot            : Ya, benar Mas. Enyong Sentot.

Hanung          : Ya, ya. Saya Hanung.

Sentot            : (sambil garuk-garuk kepala)

Hmm, nganu. Yang enyong tahu, Hanung Bramantyo itu mukanya

nggak kayak gini ya? Tapi kok ini beda?

Hanung          : Siapa bilang saya Hanung Bramantyo?

Saya ini Hanung Bramakumbara! Bukan Hanung Bramantyo…

Sentot            : Oh, enyong kira sutradara AAC yang terkenal itu….

Ah, ora opo-opo.

Yang penting enyong bisa langsung main film.

Hanung          : Hmm, Mas Sentot. Sebelum kita syuting AAC, lebih baik

Mas kenalan dengan lawan main Mas di film ini.

Sentot            : Oqe lah qalo’ begeto!

Sentot pun menghampiri wanita bercadar di dekatnya. Ia kira wanita itu adalah Aisya, lawan mainnya. Tapi ternyata…..

Sentot            : Hmm, hmm. (berdehem)

Aisya ya? Kenalken, enyong Fahri alias Sentot.

Dengan tersipu malu, ia pun membuka tutup mukanya pelan-pelan.

Aisya             : Iya. (ia menyeringai sambil memerlihatkan gigi tonggosnya)

Melihat gigi tonggos lawan mainnya, Sentot pun terkejut.

Sentot            : Lho, katanya Aisya. Aisya ora koyo kuwi!

Astuti             : Siapa bilang gue Aisya! Gue Astuti! (marah)

Sentot            : Lho, ini bukannya film AAC? Ayat-Ayat Cinta?

Astuti             : Ini bukan Ayat-Ayat Cinta, tapi Anak-Anak Cebol tau!!!

SCENE 7 (di kos-kosan, kampung halaman di Tegal, dan kembali lagi

ke kos-kosan)

Di kamar kosnya, Sentot mengeluh seorang diri.

Sentot     :  Kenapa ya, enyong selalu dijadikan peran yang itu-itu…terus….

Yang disiksalah, yang dijadikan bulan-bulanan.

Apalagi tuh waktu  di AAC, masa’ yang jadi lawan main bukan Aisya,

eh…malah Astuti. Oalah, ternyata itu bukan Ayat-Ayat Cinta, tapi

Anak-Anak Cebol. Untung, enyong nggak dijadikan peran cebolnya.

(sambil makan kerupuk)

Ketika sedang asyik makan kerupuk, tiba-tiba HP Sentot berbunyi.

Sentot     :  Halo, Sentot iki!

Selly       : Gue Selly, Mas, agen pencari bakat itu.

Mas jadi kan buat album rekaman lagu dangdut?

Sentot     : Oh, iya. Tunggu, Mbak. Enyong belum punya uang.

Besok enyong mau pulang ke Tegal, mau jual kambing-kambing enyong

Buat nambahin uang bikin album.

Capek enyong jadi figuran iklan terus!

Hmm, nganu. Berapa Mbak kemarin totalnya?

Selly       : 5 juta, Mas. Oke besok lusa gue tunggu.

Esoknya, di kampung halaman Sentot di Tegal.

Sentot     : Panjol, maaf yo…. Enyong terpaksa menjual kamu, demi cita-cita enyong

menjadi penyanyi terkenal kayak Bang Haji

Rhoma Irama. Maafin enyong ya….

(sambil mengelus-elus kelima kambingnya)

Dua hari kemudian, Sentot kembali ke Jakarta. Ia membawa uang hasil penjualan kelima kambingnya untuk diserahkan kepada Selly dan Sarah, agen pencari bakat. Di sana tampak Selly ditemani Sarah, asistennya yang terlihat memayungi bosnya.

Selly       : Mana duitnya?

Sentot     : Ini, Mbak. Pas lima juta.

Selly       : Tenang aja. Lu pasti gue jadiin penyanyi terkenal.

Duit ini buat DP bikin album rekaman.

Sentot     : Bener yo, Mbak.

Enyong pasti bakalan terkenal, lha wong suara enyong merdu nggak

ketulungan kiye.

(lalu menyanyikan lagu Rhoma Irama)

Tuh, merdu kan?

Sarah      : Iya, merdu banget kayak suaranya Bang Haji. (sambil manggut-manggut)

Selly       : Ya, ya. Gue percaya.

Tenang aja, gue bakal jadiin lu artis terkenal. kayak siapa noh, idola lu?

Sentot     : Bang Haji, Mbak. Alias Rhoma Irama.

Selly       : Ya, ya. Itu! Ok ya. Gue masih banyak klien.

Ayo, Sar. Cabut!

Sarah      : Ok, Bos!

SCENE 8 (kos-kosan)

Tak berapa lama setelah Selly dan Sarah pergi, datanglah Jack dengan gerobak satenya.

Jack        : Te-sate…. Te-sate….

Bo, abo. Sampeyan kok masih di rumah?

Memangnya nggak ikut casting lagi?

(sambil memarkir gerobak satenya, lalu membaca koran

yang baru dibelinya)

Sentot     : Ah, enyong sudah bosan ikut casting.

Masa’ laki-laki ganteng kayak enyong dijadikan bulan-bulanan terus?

Sekarang enyong mau ganti profesi jadi penyanyi aja, kayak

Rhoma Irama. Makanya, enyong rela ngejual wedhus-wedhus enyong

seharga lima juta buat dibayarkan ke agen pencari bakat terkenal, Mbak

Selly dan mbak Sarah.

Jack        :  Bo, abo. Sebentar, sebentar. Tadi agen pencari bakatnya namanya siapa?

Sentot     : Mbak Selly dan Mbak Sarah.

Hu, nggak pernah dengar nama bagus ya? Gitu aja heran.

Jack        : Hmm, kena tipu sampeyan. Nih, baca! (sambil menunjukkan koran)

Wanted! Agen pencari bakat gadungan, Selly dan Sarah, kakak-adik

penipu kelas kakap. Berhati-hatilah terhadap janji manisnya. Kalau tidak,

bisa-bisa uang Anda raib! Jika anda menemukan mereka, harap hubungi

kami segera!

Sentot     : Wah, modyarr!! Enyong kena tipu! Yung, Biyung….

(sambil berteriak histeris)

SCENE 9 (jalan raya, sekolah-sekolah, dan pasar)

Karena beberapa kali ia gagal menjadi artis terkenal bak idolanya Rhoma Irama, Sentot akhirnya menjadi gila. Ke mana-mana ia selalu mengenakan baju ala Bang Haji dan menyanyikan lagu-lagu dangdut karya Soneta. Ia juga sering mengganggu dan meresahkan masyarakat sekitar.

  1. a. Jalan Raya (figuran: orang yang sedang berjalan)

Sentot        : “Begadang jangan begadang…. Kalau tiada artinya….”

(bernyanyi sambil berteriak-teriak)

Pemirsa, pemirsa. Kenalken!

Enyong  ini Sentot Irama, titisannya Rhoma Irama.

Siapa mau bernyanyi dengan enyong? Ayo, ojo isin-isin…

(sambil berteriak-teriak bak orang gila)

Figuran         : Ah, dasar sinting tuh orang!

  1. b. Sekolah-sekolah (figuran: dua orang anak SD)

Sentot                   : (menyanyi-nyanyi dan berteriak-teriak)

Dek, dek. Kenal enyong gak?

Figuran 1+2 : Enggak, Om. Om siapa?  Emangnya Om artis?

(sambil makan permen)

Sentot                   : Eh, sembarangan ni bocah kalau ngomong!

Di rumah emak’e ora nduwe tipi ya?

Nih, dengerin. Enyong ini Sentot Irama, titisane Rhoma Irama.

Figuran 1     : Ah, mungkin orang gila tuh! Pergi aja yuk! Kita laporin ke Mama.

Figuran 2     : Yuk! 1…, 2…, 3…, lari….!!!

(berlari terbirit-birit)

  1. c. Pasar (figuran: ibu-ibu yang sedang berbelanja)

Sentot                   : (menyanyi-nyanyi sambil berteriak)

Biyung, Biyung… Ini Sentot, anakmu yang sudah jadi artis terkenal.

(mengira bahwa orang ibu-ibu tersebut adalah biyungnya)

Figuran        : Biyung, biyung! Biyungmu kuwi! Nyoh…, rasakne!!!

(sambil menjejalkan timun yang dibawanya ke mulut Sentot,

lalu meninggalkannya sendirian)

Sentot                   : Yung, tunggu Yung….

SCENE 10 (RSG)

Tiba-tiba, Sentot telah dibawa ke RSG oleh dokter dan perawat. Ia berontak dan tetap bersikukuh bahwa ia tidak gila.

Sentot                   : Enyong ora gila! Enyong ora gila!

Dokter         : Diam kamu! Kalau kamu melawan, nanti saya njuuuuss….

Suster, tolong ambilkan suntikan!

Suster                   : Baik, Dok…

Kemudian dokter menyuntikkan obat penenang kepada Sentot hingga ia tertidur pulas. Beberapa saat kemudian, ia terbangun. Dan berjalan-jalan mengelilingi RSG dengan ekspresi linglung.

Sentot                   : Tega bener tuh dokter!

Enyong ora gila kok malah dibawa ke tempat ginian…

(sambil berjalan)

Ketika sedang melamun, Sentot bertemu dengan pasien lainnya. Mereka sama-sama terobsesi menjadi penyanyi terkenal.

Pasha          : (menyanyikan lagu Ungu sambil berputar-putar mengelilingi Sentot.

Ia memainkan tanggannya, seolah-olah sedang bermain gitar)

Dokter         : Nama kamu siapa?

Pasha          : Pasha, Dok.

Dokter         : Kalau begitu kamu belum bisa pulang.

Wong namamu Paimin kok ngaku Pasha. Ayo, masuk!

Sentot kembali termenung. Beberapa saat kemudian muncullah Siti Nur Haliza.

Siti              : (menyanyikan lagu Siti sambil berputar-putar mengelilingi Sentot)

Suster          : (datang menghampiri Siti)

Eh, ayo Siti Nurbiawak. Sudah saatnya minum obat.

(sambil menarik tangan Siti)

Siti              : Gue bukan Siti Nurbiawak. Gue Siti Nur Haliza! Lepasin tangan gue!

Suster          : Ayo, ayo… (menyeret Siti dan membawanya ke kamar pasien)

Tak lama kemudian, datanglah Gitta Gutawa.

Gitta            : (menyanyikan lagu Siti sambil berputar-putar mengelilingi Sentot)

Suster          : (kembali dari kamar)

Eh, ini lagi. Ayo, kamu juga masuk kamar! (menyeret Gitta ke kamar)

Gitta            : (tetap menyanyi dan bergaya bak Gitta Gutawa)

Tiba-tiba, petir menyambar keras! Sentot pun terkejut, lalu pingsan.

SCENE 11 (rumah Winuk, Tegal)

Karena sudah sembuh dari gila, Sentot akhirnya dijodohkan dengan Winuk, teman semasa kecilnya. Mereka duduk berseberangan. Di sekitarnya ada pula Prapti dan Tono.

Biyung         : Sentot, anakku. Sekarang dari pada kowe stres mikirin jadi artis

mending kowe tak jodoh’ne karo Winuk.

Sentot          : (sambil tersenyum)

Nuk, kowe mau tho nikah karo enyong?

Winuk         : (tersipu malu)

He eh….

Sentot          : (keluar rumah dan berteriak kegirangan)

Hore, enyong kawin… Woi, wong kampung! Enyong kawin!

TAMAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: